Monday, January 6, 2014

I Do Love Sex and the City

Saya sudah 4 tahun belakangan ini menggandrungi Sex and the City.

Perkenalan saya dengan serial TV dan film fenomenal tersebut terbilang cukup aneh. Berawal di pertengahan tahun 2010, ketika saya secara tidak sengaja menonton sebuah film yang saat itu sedang in di bioskop, Sex and the City 2. Sejujurnya saya menonton film tersebut secara tidak sengaja dan tanpa gambaran apapun. Malah pada awalnya saya mengira film tersebut adalah film semi porno, mengingat judulnya diawali dengan kata Sex. Seketika setelah menonton Sex and the City 2, saya jatuh cinta. Entah kenapa, walaupun saya menyukai film tersebut, saya tidak berusaha mencari prequelnya atau bahkan serial TVnya –mencari tahu apakah Sex and the City punya serial TV pun tidak. Mungkin karena pada saat itu saya hanya jatuh cinta dengan fashion dan gaya hidupnya saja. Bukan dengan tema ataupun issue yang dibahas.



Malam valentine tahun 2011, secara tidak sengaja (lagi-lagi) saya menonton film Sex and the City, kali ini yang pertama, di sebuah stasiun televisi swasta. Setelah menonton film tersebut, saya mulai agak paham dengan jalan cerita dan tema yang diangkat oleh kedua film itu.



Tahun 2012, saya baru tahu jika ternyata film Sex and the City merupakan lanjutan dari serial yang berjudul sama, yang tayang di era akhir 90an hingga awal 2000an. Saya menemukan serial tersebut diputar ulang di channel SET setiap hari jam 9 pagi dan 1 siang. Karena saya adalah mahasiswi yang jarang ada di rumah pada jam-jam itu, maka saya juga jarang dapat menikmati serial tersebut. Bahkan saya pernah bela-belain bolos kuliah demi menonton serial Sex and the City, karena setelah menonton beberapa episode saja, saya jadi kecanduan parah.


Awal tahun 2013, berbekal info dari seorang sahabat yang juga pecinta Sex and the City, ternyata serial tersebut dapat diperoleh secara cuma-cuma di beberapa warnet yang ada di Jogja. Berbekal beberapa biji flashdisk dan semangat 45, akhirnya saya membawa pulang serial kesukaan saya tersebut, lengkap dari season 1 hingga 6. Hampir setiap hari setelah itu saya dengan rajinnya mengikuti serial tersebut hingga tamat.
Sex and the City bukan hanya sebuah film atau cerita cemen yang berbicara soal sex yang biasa diterjemahkan orang Indonesia kebanyakan sebagai hubungan seks. Sex and the City adalah potret kehidupan 4 perempuan metropolitan (kalau istilah bahasa Indonesianya mungkin seperti itu) berbeda karakter yang bersahabat yaitu Carrie Bradshaw, Miranda Hobbes, Samantha Jones dan Charlotte York. Karena tokoh utamanya adalah perempuan, maka masalah yang sering dijadikan topik dalam Sex and the City selalu berkaitan dengan kehidupan perempuan. Entah masalah hubungan percintaan, hubungan pertemanan, gender dan lain sebagainya, termasuk di dalamnya hubungan seks.

Sex and the City seolah-olah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan saya. Ketika ada masalah atau cobaan hidup menimpa kita, biasanya kita akan meminta pertolongan Tuhan. Tapi, setelah saya menambatkan hati dan pikiran saya dengan serial keramat tersebut, saya lebih banyak mencari quote atau rujukan secara tidak langsung dari Carrie, Miranda, Samantha atau Charlotte.

Setiap kali saya merasa mendapatkan masalah atau sedang memikirkan sesuatu tentang hidup saya, saya selalu mencari episode mana yang cocok dengan saya. Saya selalu mencari kapan Carrie mengalami hal yang sama dengan saya pada saat itu. Saya selalu mencari komentar Samantha yang mana yang cocok dengan situasi yang saya alami. Memang, Sex and the City banyak mengupas masalah-masalah kehidupan, terutama yang berkaitan dengan cinta, relationship dan tentu saja masalah yang biasa dialami oleh perempuan.

Sex and the City menghadirkan semua masalah-masalah tersebut secara manusiawi dan sesuai dengan kenyataan tanpa ada maksud menggurui sedikitpun. Sex and the City tidak pernah menampilkan satu karakter-pun yang flawless alias tanpa cacat. Semua digambarkan dengan persoalannya masing-masing. Tetapi, tidak semua masalah dapat terselesaikan dengan baik. Selalu ada saja masalah-masalah yang pada akhirnya menjadi sesuatu yang harus diterima sebagai kekurangan. Sex and the City tidak pernah memberikan cap ‘salah’ ataupun ‘buruk’ bagi setiap tindakan yang dilakukan para karakternya yang mungkin melawan arus. Sex and the City seolah-olah menampilkan bagaimana hidup itu sebenarnya secara sangat-sangat realistis dan tidak munafik. Pesan yang mungkin tersirat dalam Sex and the City adalah : kita tidak sendirian di dunia ini. Ada juga orang-orang yang pernah menghadapi masalah seperti kita. Bagi saya, Sex and the City seolah-olah memberikan semangat pada kehidupan saya dan kebesaran hati untuk menerima jati diri saya seutuhnya sehingga saya bisa merasa bangga menjadi diri saya sendiri.

Kadang saya panikan dan emosional seperti Carrie, sinis seperti Miranda, naif seperti Charlotte dan memungkiri kenyataan seperti Samantha. Tapi saya bisa dengan berbesar hati menerima keadaan saya yang memang kenyataannya penuh kekurangan. Walau begitu, kadang saya pengen punya sense of fashion seperti Carrie, otak encer seperti Miranda, wajah cantik dan kebaikan hati seperti Charlotte tetapi menikmati indahnya hidup layaknya Samantha. See? Walaupun mereka semua tidak ada yang flawless, ketika hidup mereka digabungkan menjadi satu semuanya akan menjadi sempurna.

Terlepas dari betapa glamour dan bebasnya hidup mereka, betapa updatenya mereka soal fashion, betapa nikmatnya menjalani hidup dengan brunch bersama para sahabat dan dinner bersama pria-pria tampan dan betapa menyenangkannya bisa menikmati kehidupan di sebuah apartemen di jantung kota New York, Sex and the City sesungguhnya mencoba menunjukkan pada kita bahwa kehidupan seindah dan senikmat apapun, tidak ada yang sempurna di dalamnya. Setiap orang di kehidupan ini, tidak peduli siapapun dia, pasti memiliki problem kehidupannya masing-masing. Intinya, jika Sex and the City adalah manusia, dia pasti akan sangat membenci kata flawless.

Friday, August 16, 2013

East vs West : Sosial versus Individual




Siapapun yang melihat gambar di atas ini pasti tahu dong, mana yang East dan mana yang West. Mana yang budaya/kebiasaan kita dan mana yang identik dengan orang Barat. Pertama kali saya melihat gambar inipun saya nggak usah lagi pikir panjang, saya tahu kemana arahnya.

Bayangkan kita sedang ada di sebuah kafe atau perpustakaan umum, misalnya. Kita duduk di satu meja dan kita sendirian. Lalu tiba-tiba dari arah berlawanan muncullah beberapa teman atau kenalan kita yang kebetulan mungkin baru saja datang atau sedang mencari meja. Dan mereka melihat kita. Tebak, apa pertanyaan pertama yang mereka lontarkan sesaat setelah (dengan tulus atau sekedar basa-basi) menyapa kita : “Kok sendirian?” atau “Sendirian aja nih?”

Well, jujur saya lumayan risih dengan pertanyaan semacam itu. Seakan-akan kesendirian adalah sebuah hal yang aneh yang patut dipertanyakan. Dan seakan harus diberi jawaban dan kemudian dipertimbangkan alasannya. Seakan ‘sendirian’ adalah sebuah penyakit yang harus didiagnosa. Oke, to the point, kadangkala dianggap sebagai suatu gejala keanehan atau bahkan kegilaan.

“Memang kenapa kalau saya memilih sendirian? Urusan andakah itu? Apakah saya terlihat aneh jika saya sendirian?” itu biasanya jawaban (lebih tepatnya pertanyaan balik) yang saya lontarkan ketika menghadapi pertanyaan semacam itu, dalam hati. Selebihnya mulut saya hanya melontarkan kata “Iya..” penuh senyum ramah. Lalu biasanya mereka akan membalasnya dengan “Oooh..” dibarengi dengan tatapan oh-so-kasihan-sekali-orang-ini-sendirian. Padahal saya nyaman-nyaman saja dan tidak sedikit pun merasa perlu dikasihani.

Bahkan terkadang kebanyakan orang melihat orang yang sendirian di beberapa kesempatan (atau bahkan sebenarnya hanya satu) langsung berasumsi atau kasarnya, menghakimi bahwa kesendirian adalah simbol dari kesepian, perasaan insecure alias tidak aman, tidak punya teman, unfriendly, tidak bisa bersosialisasi, atau bahkan itu tadi, stress alias gila. Tapi pernahkah kita berfikir bahwa ada orang yang saking hidupnya terlalu ‘ramai’ atau terlalu banyak orang yang get involved dalam hidupnya, sampai-sampai dia memerlukan waktu untuk sendirian saja alias leave me alone? Atau ada juga orang yang saking amannya, saking securenya dan saking mandirinya sampai berani kemana-mana sendiri dan bahkan menempati apartemennya sendirian?

Budaya yang berkembang di area ketimuran, yang salah satunya adalah negara kita, seringkali dapat kita rasakan sangat menjunjung tinggi yang namanya kehidupan sosial alias group oriented. Ada suatu cerita, ketika kakak sepupu saya baru saja melahirkan anak pertamanya. Banyak anggota keluarga dan kerabat yang berbondong-bondong menengok keponakan saya yang baru lahir tersebut. Seketika rumah kakak saya tersebut langsung penuh dengan tamu. Apa pasal? Jadi, para kerabat yang hadir menengok ini kebanyakan datang dengan membawa pasukan alias berrombongan. Jadi misalnya, Oom dan Tante R datang membawa 2 anak, 2 menantu berikut cucu-cucunya. Lalu ada lagi Bapak dan Ibu Y juga datang dengan 4 anak, 2 menantu dan cucu-cucunya yang masih kecil-kecil dan suka berlarian kesana-kemari. See? Baru 2 keluarga saja yang datang sudah seperti transmigrasi bedol desa. Belum lagi kerabat-kerabat yang datang dengan kerabat lainnya yang kebetulan rumahnya berdekatan, hingga penamaannya menjadi Rombongan + Nama Daerah. Misalnya Rombongan Cilacap, Rombongan Kebon Jeruk, Rombongan Kelurahan Sukamakmur, etc. Nah, bahkan saking ramainya, suasana menjadi tidak kondusif. Keponakan saya tidak lagi menjadi pusat perhatian seperti yang diharapkan, tetapi seakan tenggelam di tengah-tengah hiruk pikuk orang-orang yang datang.

Kalau saya ada di posisi seorang anak yang sudah berumah tangga, punya suami dan anak-anak lalu tiba-tiba orangtua atau mertua saya mengajak untuk pergi bersama-sama menengok kerabat yang sedang sakit, habis melahirkan atau apapun itu, saya akan lebih memilih menolaknya dan berangkat berdua bersama suami saja atau kalau anak-anak sudah cukup besar dan tidak lagi rewel dan merepotkan, ya bersama anak-anak.

Saya tidak ingin datang, lalu dikenali oleh tuan rumah atau kerabat yang sedang sakit sebagai menantu Bapak dan Ibu X atau salah satu anggota Rombongan Jogja, misalnya. Hey, I don’t even have a name. I do really have a name to be mentioned and recognized, as well. Buat saya, apa artinya kemandirian setelah berumah tangga jika dalam hal-hal remeh temeh begini istilahnya kita masih nebeng dibawah mertua atau orangtua kita?

Lagipula, masa iya, menengok orang sakit saja kok musti keroyokan semacam mau perang begitu? Jika saya jadi yang sakit, alih-alih terhibur dengan kedatangan orang-orang yang peduli dengan saya, saya mungkin malahan akan stress jika didatangi pasukan perang macam itu. Kok rasa-rasanya seperti tidak tahu etika a.k.a kurang sopan kan ya? Kalau saya harus menengok orang sakit, terutama di rumah sakit, saya akan lebih memilih untuk datang berdua (atau bahkan sendiri), berjalan elegan sambil membawa parcel buah. Selain lebih elegan dan sopan, buat saya kesendirian dalam hal ini lebih menunjukkan kemandirian, rasa hormat dan juga ikatan emosional yang lebih mendalam dengan yang ditengok. Kenapa lebih mendalam? Karena orang yang saya tengok akan melihat saya sebagai saya sendiri, sebagai saya yang betul-betul peduli dengan keadaannya. Bukan berarti orang yang versi rombongan tadi tidak betul-betul peduli ya, tapi nggak salah juga kan kalau saya bilang saking ramainya situasi malah seringkali tujuan menengok tersebut jadi terlupakan dan tergantikan dengan acara yang seakan terasa seperti kumpul-kumpul. Tanyakan saja kepada orang-orang yang menengok keponakan saya tersebut. Berapa orang dari mereka yang betul-betul tau nama lengkap keponakan saya, arti namanya, kondisinya ketika dilahirkan, cerita dibalik kelahirannya, atau bahkan yang sudah mencoba menggendongnya atau at least melihat dengan jelas wajah keponakan saya? Lama-lama saya jadi kasihan sama keponakan saya yang seperti terabaikan di tengah orang-orang yang seolah peduli.

See? Belajar dari kasus tersebut, kesendirian bukan melulu sesuatu yang harus dikasihani atau bahkan diratapi. Dari cerita kelahiran keponakan saya diatas, saya justru belajar bahwa dalam beberapa kasus, kesendirian bisa dimaknai sebagai sesuatu yang lebih elegan dan lebih personal. Lebih mandiri, jelas iya.

Tapi permasalahannya, tidak semua orang memiliki keberanian atau kepercayaan diri untuk melakukan apa-apa sendiri, terutama hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas publik alias yang kita lakukan di depan umum. Misalnya, makan di rumah makan, kantin atau restoran, berpergian, jalan-jalan, bahkan belanja. Ada teman saya yang kelaparan nyaris seharian hanya gara-gara tidak ada teman yang bisa diajak makan siang. Ada juga teman kuliah saya, yang nyaris setiap kali di kampus dia ingin pergi ke toilet, minta ditemani. Pacar saya, walaupun kami berbeda kota, seringkali ketika dia ingin membeli sesuatu selalu meminta pendapat saya. Dan kalau saya ketiduran ketika dia sedang berbelanja dan butuh rekomendasi segera, sayalah yang akan merasa bersalah karena membiarkannya kebingungan. Sejenis dengan pacar saya, ada teman saya yang tidak bisa berbelanja kalau tidak ditemani. Pernah suatu ketika dia ingin membeli sesuatu, dia menunggu berhari-hari demi ada yang bisa menemani dan memilihkan. Lain lagi dengan teman saya yang tidak bisa pergi ke acara-acara undangan sendirian. Bahkan Ibu saya pun akan merasa sedih jika tidak ada yang menemaninya ke gereja.

Lagi-lagi, saya cuma bisa berkata, see? Hal-hal berlandaskan group oriented tersebut sudah merasuki bagian-bagian terkecil dari hidup kita. Saya tidak mengatakan hal tersebut sebagai sesuatu yang buruk, tetapi lebih kepada sesuatu yang sifatnya bergantung alias nggak flexible. Masa iya, saking kita terbiasanya ditemani, kita sampai membuat diri kita tidak bebas menentukan kapan kita akan makan, jalan-jalan atau berbelanja? Too much to be pity, dear.

Kalau saya ditanya, saya lebih condong ke gambar merah atau biru, saya akan menjawab dengan mantap : biru. Selain karena saya memang suka warna biru, pada kenyataannya gambar tersebutlah yang mencerminkan diri saya.

I do love to be alone. Being alone is something that easier for me. Independent, free dan tidak bergantung pada siapapun. Ketika orang lain merasa nothing ketika sendirian, saya justru terkadang merasa aneh jika ditemani. Saya menikmati berpergian sendiri, jalan-jalan sendiri dan bahkan ketika berbelanja pun saya tidak bisa ditemani orang lain. Pernah suatu ketika saya berencana ingin berbelanja sesuatu dan teman saya menawarkan diri untuk menemani. Karena dia memaksa dan sepertinya betul-betul ingin menemani saya, maka saya ijinkan dia ikut. Itupun karena saya tidak enak hati. Tapi apa yang terjadi kemudian? Saya justru bingung menentukan mana yang akan dibeli karena dia selalu mencoba mengusulkan ini dan itu (yang membuat saya bingung). Selain itu, parahnya lagi, setiap barang yang saya pilih selalu ada saja cacatnya di mata dia, dan, to be honest, I felt distracted. Sejak saat itu saya selalu memutuskan untuk berbelanja sendiri.
idak hanya berbelanja, dalam segala hal saya akan selalu mengambil keputusan sendiri. Entah, saya selalu merasa bebas, nyaman dan cepat jika tidak melibatkan orang lain. Jika saya terpaksa harus bekerja dalam tim pun saya akan dengan sukarela membagi-bagi tugas kepada semua anggota dan bekerja masing-masing lalu menyatukannya kembali setelah selesai. Parahnya lagi, ketika jam makan tiba, saya juga dengan ikhlas hati menunggu anggota keluarga yang lain selesai makan supaya saya bisa makan belakangan. Dan sendirian.

Kenapa begitu? Kalau ditanya kenapa, saya juga tidak tahu alasan pastinya. I just enjoy it, no matter what. Dan sifat saya ini seringkali membuat orang di sekitar saya bertanya-tanya atau bahkan jengkel. Jengkel karena mungkin dengan sifat saya yang individual ini, pembawaan saya jadi terlihat seperti orang yang egois dan bahkan sombong. To be honest, saya sangat nyaman dengan diri saya, tetapi saya juga tidak ingin sifat saya ini menjadi bad impression buat saya. Cuma ya itu tadi, saking individualnya saya, terkadang saya tidak peduli dan ambil pusing terhadap apa yang orang katakan. Satu hal yang saya pikirkan adalah, saya tidak salah, hanya saja saya berada di lingkungan yang didominasi oleh budaya sosial.

Do you even have a friend? Yes I do! I do make friendssss. Bukan berarti orang yang individual itu sebatangkara alias nggak bisa berteman ya.. Hanya saja mungkin tipe pertemanannya yang berbeda. Orang-orang yang individual ini, biasanya jumlah temannya lebih sedikit, tetapi ikatan personalnya lebih kuat.

Satu hal yang sebenarnya ingin saya katakan di sini adalah bahwa tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk between being social or individual. Klise, tapi memang benar segala hal pasti ada positif dan negatifnya. One important tips, don’t be too extreme. Saya bukanlah contoh yang baik untuk ini. I’m extremely individual. Saya seringkali merasa canggung dan sulit beradaptasi dengan orang-orang baru. Terkadang saya menyakiti hati orang lain yang peduli dengan saya dengan cara menolak mereka masuk dalam lingkaran kehidupan saya, walaupun saya tahu niat mereka baik. Saya pun masih dan selalu akan terus belajar untuk mengatasi ini.

But, hey, no matter social or individual, being yourself will be the best thing, I guess. Yes, trust me..

Thursday, April 18, 2013

Ibu Mertua Oh Ibu Mertua (How to Deal with Beliau :))

Pada tulisan saya sebelumnya, saya menjanjikan akan menulis beberapa cara yang kira-kira bisa dipakai untuk 'berdamai' dengan mertua. Sebenarnya nggak masalah sih, saya mau bikin tulisan ini minggu depan kek atau malah bulan depan sebenernya juga nggak papa. Tapi.. Karena pacar saya sudah membaca tulisan saya yang sebelumnya dan saya khawatir dia jadi agak berpikir ulang buat menjadikan saya menantu ibunya, makanya saya cepet cepet bikin tulisan ini :p. Sebenernya tulisan saya sebelumnya nggak ada maksud sama sekali untuk menunjukkan bahwa punya mertua itu tidak enak, tapi ya memang begitu adanya. Dan begitu adanya pula tulisan saya yang setelah saya baca sendiri kok kesannya jadi agak paranoid soal ibu mertua. To be honest, bukan maksud saya (terus maksud siapa? :p) Yasudahlah, daripada saya nelangsa gagal dipinang, lebih baik cepat-cepat saya utarakan gagasan baik saya tentang ibu mertua :)

Namanya kita punya suami, pasti akan punya mertua dan terkhususnya ibu mertua. Nggak mungkin lah ya, kalau misalnya kita mau anaknya aja tapi nggak mau berbakti dan sayang juga sama ibunya, atau singkat kata nggak mau punya mertua. Kecuali beliau sudah meninggal sebelumnya. Dan bukan karena kita kasih racun atau tusuk pake pisau dapur :p Sebenarnya, bukan nggak mungkin kita nggak cocok sama ibu mertua, atau mungkin calon ibu mertua kita. Kenapa? Ya wajar, namanya juga ketemu gede, nggak semua orang yang kita temui bisa cocok sama kita kan? Begitu pula ibu mertua.

Ketidakcocokan ini macem-macem. Bisa jadi, kita belum terlalu kenal sama beliau tapi berhubung pas kita ketemu, mood beliau lagi nggak bagus dan dalam kondisi cemberut, kita langsung nge-judge "Wah, jutek amat.." atau "Wah, auranya buruk, galak.." dan lalu serta merta kita langsung nggak suka gitu aja. Atau misalnya cuma lihat penampilannya aja yang agak kayak nyonya-nyonya parlente, kita langsung ngebatin "Pasti kayak mertua-mertua sinetron nih.." dan sebagainya. Kalau kasus yang terjadi seperti ini, cobalah untuk berpikir lebih netral. Kita juga nggak suka kan kalau orang lain menghakimi kita cuma sekali lirik saja? Cobalah kenali lebih dalam, sering-sering ngobrol, berkunjung ke rumahnya, atau mungkin sharing sama pasangan soal ini. Kalau kita punya penilaian tentang calon ibu mertua kita yang kita sendiri masih ragu, jangan ragu juga untuk membicarakannya dengan pasangan. Tentunya, dengan bahasa dan intonasi yang tidak menghakimi dan jangan langsung menjelek-jelekkan. Ingat, somehow someway, calon ibu mertua kita itu orangtua pasangan kita, yang harus kita hormati juga. Pasangan kita pasti kenal betul sosok ibunya seperti apa. Bisa jadi dugaan kita keliru. Atau kalaupun benar, pasangan kita siapa tau bisa kasih masukan buat kita, supaya kita bisa bersikap sesuai dengan tipe ibu mertua, bukan dalam arti menuruti segalanya, tapi lebih ke menyesuaikan diri. Mungkin, dari pasangan kita sendiri, kita malah bisa belajar banyak bagaimana cara-caranya supaya kita bisa menjalin hubungan dengan baik, dengan ibunya.

Tapi gimana, kalau kasusnya ternyata kita sudah mengenal calon ibu mertua kita luar-dalam, sudah bukan dalam taraf menduga-duga lagi dan ternyata kita bisa dibilang nggak ada kecocokan sama sekali atau bahkan bisa dibilang bertolak belakang sama calon ibu mertua kita?

Kalau nggak cocok sama sekali dengan ibu mertua? Misalnya bener-bener berbeda gaya hidup 180 derajat, atau kita bener-bener nggak suka sama sekali atau bener-bener... You know lah. Saran saya : stop sampai di sini dan jangan dilanjutkan. Jangan menikah. Menikah itu berbeda dengan pacaran. Menikah itu hidup berkeluarga dan mau nggak mau harus menyatu dengan keluarga dia juga. Nggak bisa lah, kita mau anaknya tapi nggak mau ibunya. Daripada suami pusing tujuh keliling gara-gara istri dan ibunya ibarat anjing dan kucing, lebih baik cari yang lain, yang ibunya masih bisa anda tolerir. Secinta-cintanya anda dengan pasangan anda kalau sudah begini ceritanya, jangan diteruskan. Sekian.

Kalau ketidakcocokannya hanya berupa hal-hal yang bisa ditoleransi seperti perbedaan selera atau perbedaan orientasi hidup dalam hal-hal kecil, okelah kalau mau lanjut ke jenjang pernikahan. Dengan catatan, ibu mertua kita (dan juga kita) adalah orang yang demokratis, menghargai privacy dan sama-sama berjiwa besar bin penuh toleransi. Kalau sifat-sifat yang saya sebutkan barusan ada dalam taraf yang cukup besar, maka bukan hal yang mengkhawatirkan kalau kita dan ibu mertua sering-sering berinteraksi bersama seperti misalnya belanja bareng, masak bareng atau mungkin mengurus anak. Tapi kalau tidak, dalam artian baik ibu mertua atau kita sama-sama agak 'dingin', ada baiknya kita tinggal jauh dari mertua, entah di daerah yang agak jauh tetapi masih dalam satu kota atau di luar kota sekalian. Bukannya nggak sayang atau nggak mau ngurusin atau gimana, tetapi lebih kepada meminimalisir gesekan dan konflik. Tentunya, hal-hal seperti ini harus dibicarakan dulu baik-baik dengan pasangan sebelum menikah. Tetapi tetap saja, jagalah hubungan baik dengan ibu mertua, yah, minimal setahun sekali tetap sungkem dong ya kalau Lebaran :) Lebih enak memang, kalau kita ketemu beberapa kali dalam beberapa kesempatan tapi dalam kondisi damai dan penuh rasa kangen daripada berinteraksi setiap hari yang malah akan memantik konflik.

Lalu bagaimana dengan suami dan anak-anak? Jangan sesekali memutuskan hubungan mereka dengan ibu mertua yang dalam hal ini sebagai ibu dan nenek. Berikan ibu mertua kita kesempatan untuk tetap menjadi ibu dan merasakan indahnya pengalaman sebagai nenek. Kita saja yang sebagai menantu tetap harus berinteraksi dengan ibu mertua kita (siapa tau beliau juga ingin merasakan rasanya punya anak perempuan). Kadangkala, kita perlu memberikan semacam 'me time' untuk suami kita dan ibunya. Sesekali, biarkanlah suami kita pulang ke rumah ibunya (tanpa kita dan anak-anak) untuk sekedar melepas kangen dan bermanja-manja layaknya ibu dan anak. Biarkan suami kita menikmati saat-saat kebersamaannya dengan ibunya tanpa ada kita. Karena terkadang, kehadiran kita membuat suami dan ibu mertua kita tidak bisa mengekspresikan rasa kangennya dengan leluasa. Dengan anak-anak kita pun begitu. Sesekali di akhir pekan, biarkan anak-anak menginap di rumah kakek-neneknya tanpa kehadiran kita dan suami. Biarkan anak-anak beradaptasi dengan suasana rumah kakek dan neneknya. Walaupun, untuk kebersamaan anak-anak dengan kakek neneknya tidak boleh diberikan porsi yang terlalu banyak. Kenapa? Karena pola asuh orangtua dan kakek nenek yang pasti akan jauh berbeda. (Later we'll discuss it)

Yang jelas, bisa dikatakan, jangan bersikap posessif terhadap anak dan suami, walaupun kita tinggal berjauhan dari mertua. Karena dengan memisahkan mereka dari ibu mertua kita, itu namanya membuat ibu merta (dan juga mereka) menderita.

Dibutuhkan juga kebesaran hati kita sebagai menantu. Seperti yang sudah saya tulis di tulisan sebelumnya, ibu mertua kadangkala punya niat baik (yang tidak lagi jadi baik di mata menantu) untuk mengajari kita segala sesuatu hal (yang kadang sebenarnya kita juga sudah bisa walaupun dengan cara berbeda) dan mengintervensi segala urusan rumah tangga kita, termasuk mungkin soal mendidik anak. Kalau kita menanggapi semuanya dengan pikiran negatif, percayalah, kita yang capek sendiri. Sesekali, cobalah dengarkan baik-baik, siapa tau kata ibu mertua itu benar dan justru kita malah jadi terbantu. Kalau misalnya berbeda, coba dicoba dulu, siapa tau bisa kita terapkan juga. Tapi kalau ternyata apa yang ibu mertua kita katakan itu salah dan sudah kita buktikan dengan referensi yang meyakinkan seperti informasi dari artikel, majalah atau buku-buku, jangan langsung menyalahkan atau bahkan menghakimi ibu mertua. Atau bahkan salah-salah kita malah terang-terangan mengajari ibu mertua. Jangan lakukan itu. Ibu mertua memang suka mengajari, tetapi beliau paling tidak suka diajari, apalagi sama menantunya. Karena somehow, beliau akan merasa lebih berpengalaman, walaupun jaman sudah berganti dan berkembang.Kalau misalnya kita nggak mau menuruti saran ibu mertua yang kita anggap tidak sesuai, coba, alih-alih mengajari yang sebaliknya pada beliau, ajak beliau untuk membaca artikel atau majalah yang kita baca. Siapa tau kalau beliau ikut membaca, beliau bisa lebih terbuka pikirannya dan mau menerima pendapat kita. Alih-alih bilang "Itu nggak boleh Ma, yang bener itu......." coba bilang "Ma, coba deh liat ada artikel tentang cupfeeder Ma, liat deh, masa ternyata katanya lebih sehat pake cupfeeder daripada dot.." Tapi, caranya harus pelan-pelan, tidak boleh memaksa dan intinya harus tetap menghargai dan menghormati beliau.

Bagaimana dengan tinggal serumah? Perlu saya tegaskan (menurut saya), kita boleh tinggal di Pondok Mertua Indah hanya kalau kita bisa akuuuurr sekali dengan mertua dan kita sejalan sehati sepikiran sepaham dengan beliau. Kalau ada perbedaan sedikit saja? Lebih baik jangan. Dengan suami yang kita anggap orang yang bisa kita ajak berbagi kehidupan, yang pastinya (kita mencarinya yang) punya sedikit perbedaan dengan kita saja pasti kalau sudah serumah akan banyak gesekan dan benturan, bagaimana dengan ibu mertua? Ibu mertua nggak bisa milih kan? :) Kalau kita saja sebagai nyonya rumah kerap berkonflik, gimana kita mau membangun suasana rumah yang tenang dan kondusif? Lagipula, kita sebagai nyonya rumah juga perlu otoritas tersendiri sebagai istri dan ibu rumah tangga. Percayalah, rumah tangga dengan dua wanita yang sama-sama (dan pernah) berperan sebagai istri dan ibu, pasti tidak akan baik situasinya. Situasi yang tidak baik seperti apa? Pokoknya banyak, complicated dan bermacam-macam. Dengarkan saja curhatan para istri yang tinggal dengan ibu mertua. Belum sampai 5 menit, anda akan paham.


Masih banyak yang akan saya tuliskan tentang ibu mertua. Lagi-lagi, just wait :)