Tuesday, December 8, 2015

Perempuan Bekerja: Bukan Hanya Soal "Lipstik 50K vs Lipstik 500K"

"Kenapa perempuan harus kerja?"
"Karena laki-laki nggak akan paham bedanya lipstik 50K vs 500K..."
@falla_adinda
28 Juli 2015

Buat kalian yang sering mantengin Twitter, Path, Instagram dan semacamnya, pasti nggak asing ya sama kalimat tadi? Kalimat tersebut nyebar dengan viralnya beberapa bulan yang lalu, bertepatan dengan Hari Lipstik Internasional (iyap, kebetulan momennya dapet) di mana-mana dan bahkan dicopas sana-sini oleh pihak nggak bertanggung jawab. Sebenernya quotes mahadahsyat ini adalah hasil pemikiran seorang selebtweet terkenal, Falla Adinda Hadinoto, yang selalu menghasilkan tweet-tweet inspiratif yang ceritanya tentang dunia-sekitar-kita-banget-tapi-kadang-kita-nggak-sadar dan sering membuatku berpikir "Hmmm, iya juga sih ya..."

Sama halnya ketika aku membaca kicauan lipstik 50K vs 500K.

Sudah kodrat katanya, bahwa tugas seorang wanita yang sudah menikah, atau mungkin bahkan punya anak, adalah mengurus rumah tangga, anak dan suami. Jangan sampai anak terlalu sering main sama pembantu, jangan sampai suami keranjingan makan masakan embak di rumah. Begitulah kata mertua eh kodratnya.

Begitukah? Atau karena dulu belum ada lipstik 500K?

Perkara lipstik 50K vs 500K sekilas terjemahan gampangnya adalah : mengahsilkan pundi-pundi rupiah sendiri itu perlu bagi wanita atau istri, supaya bisa beli lipstik setengah juta tanpa harus menadahkan tangan kepada suami. Karena betapapun kayanya suami, pasti mereka ga akan paham dan mengerti bahwa lipstik setengah juta itu ada, nyata, dan memang lebih bagus punya. Laki-laki mah taunya mungkin kalau pakai lipstik setengah juta, ciumannya harus makin hot. Hahahaha. Itu versi gampangnya aja lho ya.

Sebagai seorang wanita yang juga doyan lipstik, aku juga sulit sih membayangkan kalau seumur hidup harus nodong seseorang tiap mau beli lipstik. Belom bedak, belom baju, sepatu, novel, tas birkin, berlian, iuran arisan sosialita, jet pribadi... 

Lewat lipstik 50K vs 500K kita, para wanita, sesungguhnya disentil akan kebutuhan kita untuk mandiri. Bukan hanya persoalan kepuasan batin membeli lipstik dengan harga wow, tetapi kita juga harus sadar bahwa pria nggak sepenuhnya paham dan mengerti kebutuhan wanita. Kitalah sebagai wanita yang harus paham akan kebutuhan dan keperluan kita sendiri. Kita nggak bisa maksa suami untuk tahu kapan istrinya harus beli lipstik sehingga dia harus menyisihkan uang lebih tiap berapa bulan sekali atau berapa minggu sekali. Mereka pasti ga akan paham gimana sensasinya bilang ke mbak BA di konter kosmetik "Mba, mau yang ini dong, lip creamnya. Ehm, nomer 1 sampai 10 masing-masing satu ya. Sama itu mba, lip linernya. Ada berapa warna? 5? Oh yaudah bungkus mba semuanya," dengan tanpa mikir panjang.

Dan jangan paksa mereka untuk paham. Mereka mudeng lipstik ada yang glossy sama matte aja udah syukur.

Pastinya, namanya kebutuhan dan keperluan itu ujung-ujungnya ya, kaitannya nggak jauh sama uang. Jadi ya memang, kalau kita punya keinginan untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri secara leluasa, kemandirian finansial itu mutlak.

Jadi walaupun sudah menikah, tetap harus bekerja gitu?

For me, kalau memang nggak ada hambatan yang berarti sih, iya. Apalagi kalau memang suami perlu dibantu dalam proses pemenuhan kebutuhan rumah tangga dari segi finansial *haiyah, bilang aja cari duit

Jangan salah ya, walaupun ada istilah suami harus bertanggung jawab memenuhi kebutuhan rumah tangga, menafkahi anak dan istri, menurutku sah-sah aja kok kalau memang dia meminta bantuan istrinya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ya sama kan, kita juga pasti seneng kalau suami bantuin jaga anak, cuci piring, berbenah rumah. Ya, cuma porsinya pasti beda lah ya, #sesederhanaitu

Selain itu, ini pendapatku aja tapi ya, kok rasanya aneh ya kalau lipstik dan kebutuhan duniawi wanita lainnya dimasukkan ke dalam list yang harus dibelikan suami? Rasanya itu terlalu menambah tanggung jawab dan beban yang harus mereka pikul. Bukan berarti jika seorang perempuan atau istri punya hak istimewa untuk dinafkahi, maka seluruh hidupnya sampai se-perintilan-perintilannya menjadi tanggung jawab laki-laki. Cicilan rumah, listrik, air, bensin, belanja dapur bulanan, tagihan internet, SPP si kakak, susu dan popok si dedek, dan segala ubo rampe lainnya aja kadang udah bikin suami kerja keras banting tulang. Gimana kalau ditambah "Mz, aku pengen lipstik Channel Mz. Sama itu alat facial yg dijual di DRTV ya Mz..."

Besoknya si Mz ga pulang 3 hari.

Tapi, gimana kalau kondisinya...

"Ah tapi suamiku udah kaya banget. Gajinya aja sebulan 5 M. Aku mau beli lipstik MAC selusin tiap hari ga masalah. Ya paling tinggal nabung dikit aja aku bisa beli se-pabriknya..."

Terlepas dari kemandirian finansial demi terlaksananya pemenuhan atas kebutuhan pribadi wanita, yang salah satunya adalah lipstik, tanpa menengadahkan tangan atau ndusel-ndusel sok manis dulu kepada suami, 'kebutuhan' seorang perempuan untuk bekerja tidak hanya berhenti sampai di lipstik saja.

Ya, aku bilang bekerja adalah 'kebutuhan' bagi setiap perempuan karena pada akhirnya mereka jugalah yang merasakan manfaatnya.

Ketika pundi-pundi uang tidak lagi menjadi sebuah persoalan dalam sebuah rumah tangga, bukan berarti seorang istri kemudian bisa lega seumur hidup jadi istri yang selalu duduk manis di rumah menanti suami pulang kantor. Bayangkan, suami setiap hari di kantor atau di lingkungan kerjanya bertemu orang-orang baru, belajar melakukan hal baru, punya kehidupan yang lebih dinamis, punya pengalaman hidup yang lebih berwarna. Kemudian semua itu membuat suami menjadi pribadi yang bertumbuh setiap harinya, makin hari wawasannya makin luas, makin punya banyak pandangan baru. Bukan nggak mungkin suami menjadi orang yang makin hari makin terlihat 'berbeda', in a good way.

Sedangkan kalau istri setiap hari di rumaaahh mulu, nggak punya pekerjaan lain selain pekerjaan rumah tangga yang seringnya digarap si embak, gaulnya sama ibu-ibu tetangga yang juga gitu-gitu aja, nontonnya gosip artis yang makin ga jelas, pada akhirnya ya akan tetap gitu-gitu atau gini-gini aja.

Yang terjadi? Bisa aja pada akhirnya suami ngerasa istrinya bukan lagi partner yang nyambung buat diajak bicara atau diskusi. Ujung-ujungnya bosen. Bisa aja istri pada akhirnya merasa 'nggak dianggap' sama suaminya. Ujung-ujungnya cari pelarian yang nggak sehat.

Seenggaknya, dengan bekerja, istri juga bisa punya lingkungan sendiri, punya aktifitas dan dunia sendiri. Sehingga pada akhirnya bisa merasakan proses berkembang yang kurang lebih sama dengan suami. Selain itu, dengan punya dunia sendiri pun si istri pada akhirnya nggak akan menggantungkan dunia dan hidupnya pada suaminya, yang mungkin juga nggak akan setiap saat ada kalau dibutuhkan. Aku rasa, suami juga akan senang kalau istrinya setiap hari punya hal baru untuk diceritakan, bisa sharing dan berbagi cerita tentang kegiatan masing-masing.


Bekerja juga membuat istri memiliki peran dan identitasnya sendiri. Istri bukan lagi disebut sebagai bu dokter karena suaminya dokter, bu lurah karena suaminya lurah, bu direktur karena suaminya direktur. Istri yang bekerja akan disebut sebagai bu dosen, karena ya memang kerja jadi dosen, bu hakim karena profesinya memang hakim. Nggak selamanya kita bisa menggantungkan identitas di bawah lengan suami. Juga, nggak selamanya kita bisa bersandar pada pundi-pundi uang suami. Kita juga harus memikirkan kemungkinan terburuk kalau-kalau suami meninggal duluan, kecelakaan, sakit, dll.

Tapi tetep ya, urusan rumah tangga, kewajiban sebagai istri dan ibu harus menjadi prioritas. Jangan sampai dengan dalih bekerja lalu urusan rumah diabaikan.
Sama lah, kaya suami bantu berbenah rumah, tapi nggak langsung kemudian berbenah rumah jadi prioritas dia juga kan?

Hmm, berarti jangan jadi ibu rumah tangga ya kalau gitu?

Aku nggak ada maksud sedikitpun buat menyinggung istri-istri di dunia ini yang menyandang predikat ibu rumah tangga. Sungguh, di mataku ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang sangat mulia. Jika memang situasi dan kondisi tidak memungkinkan bagi seorang istri untuk meninggalkan rumah dan bekerja, apa iya harus dipaksakan?

Seorang istri dan ibu yang bekerja, tentunya tetap memiliki kewajiban untuk menangani urusan rumah tangga dengan baik. Apapun kesibukannya, urusan rumah tangga jangan sampai terlewatkan. 

Nah, gimana kalau kita balik?

Seorang ibu rumah tangga juga tidak boleh mengesampingkan kebutuhannya untuk belajar, berkembang dan membuka wawasannya akan dunia luar. Walaupun jadi ibu rumah tangga, walaupun segala kebutuhan dicukupi suami dengan segala kelebihannya, tetaplah penuhi kebutuhan sebagai partner suami yang bisa mengimbangi kemampuannya. Bahkan juga kebutuhan sebagai seorang ibu yang akan jadi tempat bertanya anaknya. Caranya?

Sekarang ini banyak banget nget nget kerjaan yang bisa dilakukan oleh istri dan ibu tanpa harus meninggalkan rumah dan kewajiban mengurus rumah tangga. Pernah dengar mompreneur, momblogger, beauty reviewer, content writer, dll? Bahkan ada kok sekarang, editor majalah yang kerjanya cukup dari rumah aja. Nggak jarang bahkan akhirnya apa yang dikerjakan nggak jauh-jauh dari keseharian menjadi ibu rumah tangga.

Ikut bergabung dengan komunitas-komunitas yang juga dibentuk oleh sesama istri-istri atau ibu-ibu di luar sana dan terlibat jadi volunteer di dalamnya juga sangat membantu para ibu rumah tangga dalam hal menemukan lingkungan positif yang bisa membantu mereka untuk berkembang. Misalnya, ikut komunitas milis kecantikan, komunitas blogger, komunitas parenting, komunitas kuliner, komunitas ibu-ibu yang suka bikin DIY mainan anak, dll. Kalaupun nggak bisa atau nggak cukup waktu untuk terlibat jadi volunteer, cukuplah memperkaya diri sendiri dengan tetep terlibat secara pasif di komunitas yang diminati, atau mungkin sering-sering ikut seminar aja udah cukup kok untuk meng-upgrade diri sendiri. Komunitas-komunitas seperti yang aku sebutin tadi sekarang ini banyak banget jumlahnya dan bisa dengan mudah kita temuin di media sosial.


Tuh kan, yang tadinya bahas lipstik 50K vs 500K aja ujung-ujungnya ga ada hubungannya sama lipstik.
Ya seperti yang kubilang, ini memang bukan hanya soal lipstik semata :)


See you!
deapurie




Monday, December 7, 2015

Resepsi Pernikahan Mewah, Yay or Nay?

Akhir-akhir ini, aku sering banget, bahkan sampai bosan, dengar orang komplain baik secara langsung ataupun lewat media sosial soal resepsi pernikahan mewah dan mahal.

Banyak orang bilang, terutama anak kekinian yang semakin paham dengan budaya yang kebarat-baratan, resepsi pernikahan mewah dan mahal itu buang-buang uang, bertujuan pamer, sombong, dll.

Bahkan ada juga beberapa orang yang membandingkan pernikahan dengan resepsi mewah yang lazim terjadi di Indonesia dengan pernikahan ala-ala Barat yang tamunya sedikit, sifatnya personal, nggak keluar banyak uang, dan terkesan efektif serta efisien. Apalagi ketika beredar berita soal pernikahan Mark Zuckerberg (CEO Facebook). Seketika banyak banget orang yang berusaha membanding-bandingkan pernikahan sederhana tersebut dengan pernikahan ala-ala Indonesia, sehingga membuat pernikahan ala Indonesia kesannya jadi 'boros' dan buang-buang uang.

Emang iya yah?

Akupun dulu juga sempat punya pikiran gitu kok. Gara-gara nonton film Sex and the City dan ngeliat Carrie Bradshaw mutusin buat ngundang 75 orang aja di pesta pernikahannya sama Mr. Big, aku jadi pengen melakukan hal yang sama kalau aku menikah nanti. Pengennya yang dateng sedikit, nggak keluar banyak uang sehingga aku bisa pakai uangnya untuk hal yang lebih bermanfaat buatku seperti beli rumah, mobil, atau apartemen.

Tapi itu kalau kita mikirin diri kita sendiri. Gimana dengan orang tua kita? Pasangan? Mertua?

Kalau kita mau berpikir lebih dalam soal pernikahan, orang Barat dan orang Indonesia punya konsep yang berbeda. Kita bisa kok, bilang, "Menikah itu berarti dua hati yang saling mencintai kemudian memutuskan untuk hidup bersama tanpa campur tangan orang lain, bahagia selamanya..."
Tapi itu konsep ala-ala Barat.

Kalau ala Indonesia?
"Membentuk keluarga baru..."
"Menyatukan dua keluarga..."
"Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah..."
"Nambah menantu, anggota keluarga baru,..."

Ya itulah, konsep pernikahan di Indonesia itu memang nggak bisa lepas dari konsep tentang keluarga. Jadi namanya menikah di Indonesia itu bukan lagi masalah dua hati, tapi dua keluarga. Kita boleh aja sih nggak setuju, tapi gimana dengan orang tua kita? Pasangan? Mertua?

Maka dari itu, adalah hal yang sangat-sangat masuk akal kalau dalam resepsi pernikahan, bukan hanya kepentingan pasangan yang menikah saja yang dipikirkan. Kepentingan keluarga, baik itu keluarga mempelai pria atau wanita, orang tua atau mertua, keluarga besar, juga harus dipikirkan. Ya mungkin karena pesta pernikahan umumnya mengakomodasi kepentingan keluarga, maka kesannya jadi 'boros'.

Kepentingan tersebut juga nantinya akan berkaitan dengan rangkaian acara atau resepsi yang akan dilaksanakan. Coba bayangkan, misalnya orang tua si mempelai pria adalah guru besar di sebuah universitas, lalu orang tua si mempelai wanita adalah pengusaha dengan kolega yang nggak bisa dihitung dengan jari. Mempelai pria ternyata adalah seorang dokter spesialis dan mempelai wanitanya adalah fashion stylist di sebuah majalah ternama. Mungkinkah resepsinya dibuat sederhana? Masa iya kolega bisnis yang di sini diundang, tapi yang di sana nggak diundang? Teman sejawat si dokter apa iya cuma 15 orang?

Nggak usahlah jauh-jauh. Misal orang tua, besan, dan pengantinnya ini berasal dari keluarga sederhana, nggak menjamin juga bahwa mereka relasinya sedikit. Tetangga? Teman SMU? Teman kuliah? -baik teman SMU dan kuliahnya orang tua, besan, dan pengantin- Teman pengajian? Teman di gereja? Teman di kumpulan arisan atau apa gitu? Belum lagi keluarga besar yang jumlahnya bisa ratusan?

Kita nggak boleh lupa ya, kalau orang Indonesia menikah itu, apalagi orang Jawa, bukan hanya pengantinnya yang punya acara nikahan tetapi orang tua dan mertuanya juga 'mantu'. Kita juga harus memikirkan posisi orang tua dan calon mertua kita yang 'mantu' itu tadi. Kalau acaranya ga bisa mengakomodasi kepentingan mereka, mereka juga yang akan mendapat malu dan dicap tidak pantas oleh orang lain.

Harus ya semua diundang?

Jawaban dari pertanyaan di atas, aku dapatkan ketika alm. Bapakku meninggal beberapa bulan yang lalu. Keluarga besarku dari Jakarta, Semarang, Salatiga, Sleman dll, hampir semuanya datang. Semua teman kantor, teman kuliah, bahkan teman SMU, kolega, rekan kerja Bapak dan Ibuku datang dan mensupport segalanya. Bahkan yang nggak bisa datang karena di luar kota pun berlomba-lomba kirim karangan bunga sampai satu gang dari ujung luar ke ujung dalam penuh. Tetangga sekitar, satu RT bahkan nggak ada yang nggak kelihatan bersliweran mengurus segalanya. Sahabat-sahabatku dari SD sampai kuliah ada semua, bahkan teman-teman dari Antropologi Budaya 2012 hampir satu angkatan datang, padahal aku sedang cuti kuliah dan lama nggak ketemu mereka. Teman-temanku pun yang tadinya bahkan nggak tahu rumahku bisa dengan ajaibnya nemu rumahku yang hitungannya jauh di pinggiran kota. Ketika menuju pemakaman, bahkan kami harus menambah 1 bus lagi untuk menambah 3 bus yang kami sewa dan mobil keluarga kami karena nggak muat. Bahkan ada beberapa teman Ibuku yang merelakan mobil pribadinya untuk dipakai ke pemakaman.

Bayangkan, namanya datang melayat itu, artinya datang untuk ikut berduka. Nggak ada ceritanya orang melayat kemudian disuguhi makanan enak, hiburan, atau dapet souvenir. Nggak ada namanya orang melayat itu diundang, nyumbang kemudian berharap acara yang luar biasa. Mereka semua datang dengan tulus, tanpa diminta dan tanpa mengharapkan apa-apa.

Rasanya nggak tega, kalau ketika kami berduka mereka semua mensupport dengan luar biasa, tapi ketika kami berbahagia kami nggak mau berbagi dengan mereka. Di dalam budaya ketimuran, ada aturan tidak tertulis yang berkatian dengan etika membalas budi. Salah satunya adalah membalas jasa orang-orang yang sudah menolong kita di kala kesusahan dengan cara berbagi kebahagiaan. Nggak mungkin juga kalau kita membalas secara personal satu demi satu. Jadi, terkadang mengundang mereka ke acara kita yang sifatnya 'membahagiakan' adalah salah satu cara dan sarana untuk membalas budi mereka yang sudah menolong kita di kala kesusahan.

Kalau kita perhatikan, acara yang sifatnya 'membahagiakan' itu tadi, yang sampai sekarang masih bertahan dan lazim dilakukan ya resepsi pernikahan. Kalau dulu, anak lulus kuliah, atau mau berangkat ke luar negeri aja pake syukuran. Kalau sekarang? Yang paling lumrah ya resepsi pernikahan. Bisa dibilang sarana kita, dan juga orang tua plus mertua kita, untuk berbagi dan membalas budi orang-orang yang berjasa di kehidupan mereka ya yang paling lumrah di resepsi pernikahan. Jadi ya itu, mengundang orang ke resepsi pernikahan kita adalah bagian dari membalas budi dan menunjukkan bahwa di saat bahagia pun kita ingat sama mereka, ga cuma di kala susah aja.

Kita pun harus sadar, bahwa sepanjang perjalanan hidup orang tua atau calon mertua kita, yang berkali-kali lipat lebih lama dari kita, banyak orang yang mensupport mereka. Sehingga, kalau mereka sukses dan bisa merayakan pernikahan anak mereka, ya itu juga karena support dari keluarga besar mereka, kolega mereka, teman kantor yang selalu mendukung karier mereka, tetangga yang menyokong kehidupan sosial orang tua kita, dll. Jadi menurutku, nggak salah dan wajar kalau memang mereka berkeinginan mengadakan pesta pernikahan anaknya yang bisa mengakomodasi kepentingan mereka untuk membalas budi orang-orang yang berjasa buat mereka. Kita sebagai anak ga boleh egois soal hal ini.

Harus mewah ya?
 
Ya perkara mewah dan tidak, balik lagi ke kemampuan keluarga masing-masing. Aku juga bete sih, kalau ada yang menikah, ga kuat nyewa gedung lalu solusinya ngeblok jalan buat resepsi. Buatku, kalau secara finansial memang nggak mampu, bisa sih diganti dengan kirim parcel atau kue, yang penting niat berbagi kebahagiaannya ada. Tapi, kalau memang secara finasial mampu, kemudian tamu-tamu yang diundang nggak main-main, masa iya mau bikin resepsi yang ala kadarnya. Bingung juga sih, waktu jaman Pak SBY mantu dan banyak yang membahas betapa mewahnya acara tersebut dengan nada negatif. Ya iyalah beliau Presiden, tamu undangannya Diplomat sama Menteri Cyin, bukan Pak RT sama tetangga sebelah doang. Masa iya mau nikahannya lesehan pakai tikar?

Namanya mengundang orang untuk terlibat dalam acara kita, terdapat hal yang harus kita pikirkan bernama kepantasan. Kalau misal aku ngundang orang di acara pernikahanku, ya aku nggak mau sih, mereka dateng jauh-jauh, bawa kado, eh suguhannya nggak pantas, eh ga kebagian souvenir karena pesennya mepet, dll. 

Jadi ya, intinya sudah jadi satu hal yang wajar kalau yang punya gawe ingin memberikan yang terbaik untuk para tamunya. Jika ada beberapa pihak yang memang mengadakan resepsi yang terbilang mewah, tolong jangan dilihat sisi negatifnya, apapun itu, aku yakin mereka punya alasan yang wajar dan pantas. Bukan semata-mata buang-buang uang. Kalau mau buang-buang uang sih, mending investasi beli apartemennya Feni Rose yang Senin harga naik itu.

Sisi positif yang lain?

Menikah itu, seperti yang sudah aku bilang tadi, pada akhirnya memang berlanjut pada pembentukan keluarga baru. Entah suami-istri dan anak mereka, atau bahkan hubungan dengan mertua dan ipar-ipar. Menurutku, dalam mempersiapkan resepsi pernikahan bersama keluarga, kita juga nantinya belajar berdinamika dengan keluarga yang baru. Kita belajar untuk nggak lagi memikirkan kepentingan diri sendiri, belajar mendengarkan saran orang lain, beradaptasi dengan calon mertua, berkerja sama dengan ipar-ipar yang nantinya akan jadi saudara kita juga...


Aku cuma coba share pandangan dari sisi lain soal resepsi 'mewah' ya,
Buat yang punya pandangan yang berbeda, it's okay :)))



See you!
deapurie

Sunday, December 6, 2015

Pria Suka Menulis itu Seksi

Banyak kriteria pria idaman yang berbeda yang dianut oleh wanita masa kini *etdah masa kini*. Di antara kriteria-krteria tersebut, tersebar kriteria standar semacam baik hati, ganteng, pintar, seiman, setia, mapan, berwibawa, sayang keluarga, banyak uang, royal, dan lain sebagainya. Selain itu, terselip kriteria spesifik macam jago main basket, badannya berotot, suka anak kecil, pinter main gitar, dan segala kriteria lainnya yang biasanya berbeda antara satu wanita dengan wanita yang lain.

Me? Aku suka pria yang senang menulis.

Kriteria ini bukan satu kriteria yang mutlak aku tetapkan dari jaman dulu mulai pacaran, atau sejak aku kenal pacar pertamaku atau sejak kapan itu. Bukan. Aku menemukan kriteria ini bukan berdasarkan pengalaman pacaran sama penulis atau PDKT sama orang yang jago nulis. Tapi sebenernya ini berdasarkan pengamatan dan logika aja sih.

*haiyah
*kalau pada mau berhenti baca sampai di sini bolehlah
*bye

Aku nggak pernah pacaran sama orang yang suka atau jago menulis. Tapi ya semoga aja ini hanya perkara belum saja, bukan nggak hehehe. Jadi, aku juga nggak tau rasanya pacaran sama orang suka nulis itu kaya apa. Tapi kelak siapa tau aku akan merasakan rasanya membina rumah tangga sama orang yang jago nulis, apalagi jago nulis cek buat jatah bulanan.

Ketertarikanku pada pria yang suka menulis berawal dari kekagumanku sama seseorang, sesama mahasiswa, di kampus, sebut saja dia Grey. Aku ga berani sebut namanya soalnya dese itu super-duper-terkenal-banget karena jabatannya yang sangat wow di kampus. Aku tau sih, untuk meraih 'posisi' se-terkenal Grey itu dibutuhkan otak yang cemerlang, kharisma, tanggung jawab, dll. Jadi ya nggak usah ditanya lagi, si Grey ini kalo ngomong di depan umum bener-bener bisa menyihir yang dengerin lah.

Sampai suatu ketika, aku berkesempatan untuk terlibat sama si Grey ini dalam suatu kegiatan. Ga usah disebutin deh kegiatannya apa. Ntar ada yang tau kan gawat, hahaha. Di kegiatan ini, ya seperti biasa, si Grey jadi salah satu leader. Tiap ada forum, dia rajin banget ngomongin sesuatu, ngasih ide atau apalah. Kekuatan kata-kata yang dia gunakan, ajaibnya, nggak hanya membuat orang yang mendengarkan mengerti apa yag dia mau, tapi juga semacam membuat orang lain 'ketampar', in a good way. Dia ga cuma menjelaskan apa yang dia mau, tapi juga menjelaskan logika pikir dan refleksi yang dia pakai untuk sampai pada ide atau kesimpulan tertentu. See? Jarang ya ada orang kaya gini.

Aku sebagai cewek yang taunya cuma lipstik - sepatu - cat rambut - Sex and the City- selebtweet - Andra Alodita - diskon -abis ini mau makan apa pun sukses cengoh tiap dia ngomong. Rasanya tiap dia ngomong tuh kaya kesihir gitu. Apalagi, secara fisik si Grey ini layak lah buat dibilang good looking. Jadi kadang sembari roaming mikir apa yang dia maksud, aku jadi lebih concern ke wajah gantengnya yang dilengkapi dengan tatapan penuh antusias dan terlihat bercahaya lalu aku akhirnya ga paham sama yang dia omongin hahaha. Ini sih lebih ke akunya yang lebay dan semi oon.

Kemudian, ada seorang temen cowokku yang nyeletuk "Ah dia mah cuma keren pas omong doang..."

But wait. Iya juga ya, apa yang membedakan si Grey dengan jutaan pria lain di luar sana yang bisanya cuma omong doang? Jangan-jangan si Grey ini sengaja sok pengen keliatan smart dan berkharisma gitu cuma buat tebar pesona seperti yang dilakukan pria-pria level ikan keranjang yang jumlahnya ratusan juta itu? Jangan-jangan semua ide pintar dan filosofisnya si Grey itu cuma copas dari Google.

Tapi kemudian aku menemukan jawabannya...

Setelah kegiatan itu selesai, aku ga pernah lagi ketemu Grey. Ya iyalah, dese pasti sibuk berat sama kegiatan kampusnya itu dan aku juga sibuk menentukan mau pesen yamie lampion porsi sedang atau kenyang setiap minggunya. Lagian, aku ga yakin juga dia bakal inget aku atau ngga, aku mah apa atuh. 

Tetiba di suatu malam, aku mendadak keinget Grey *bener-bener cuma keinget sekilas btw* dan entah gimana aku punya pikiran buat googling nama dese dan... mendaratlah aku di blognya.

Blognya kaya apa? Hmmm, rasanya ga jauh beda deh, baca blognya sama dengerin omongan dia. Tapi, di blognya ini, alur pikiran dia yang amazing itu, dan segala refleksi dia tertuang dengan jelas, lugas, tapi lebih nyata dan lebih mendalam. Seringnya, Grey ini menulis tentang suatu kejadian sepele dalam hidupnya yang kemudian dia hubungkan dengan sebuah refleksi atau pola pikir terhadap hal yang lebih besar. Aku menghabiskan beberapa menit pertama dengan decak kagum dan membatin berulang kali "Kok bisa ya ada orang sanggup mikir gini?" "Gilak! cuma bahas ini aja bisa ya nyangkut ke sini..." Kemudian aku menghabiskan beberapa jam kemudian stalking semuamuamua tulisan dia di blognya yang sungguh inspiratif dan membuka mata. Seandainya aku es krim, mungkin aku udah lumer kemana-mana.

Kesanku? Yakin, aku kagum banget-nget-nget. Percayalah, wahai wanita, jarang banget ada pria suka nulis di dunia ini. Populasi mereka kalah dibandingkan yang suka main DOTA atau COC. Aku kagum sama pria yang punya kesabaran lebih untuk menuangkan ide dan pikiran mereka ke dalam sebuah tulisan. Nulis sama ngomong itu bedanya jauuuuhhh banget. Menulis membutuhkan kesabaran lebih, penyusunan ide yang lebih teratur, pengurutan pola pikir yang nggak boleh absurd, dan jarang ada pria mampu melakukan itu. Kebanyakan pria cenderung suka ngomong ini itu dengan gaya selangit tapi kadang apa yang diomongin itu bukan sesuatu yang reflektif, biasanya sambil ngopi, dan kadang ngomongnya loncat sana-sini. Bukan aku mau jelek-jelekin pria ya, tapi coba aja suruh mereka yang suka banget ngomong gitu buat nulisin apa yang dia maksud dengan lebih runut dan akurat. Pasti pada males kemudian milih main COC aja.

Sampai detik ini aku masih jadi pembaca setia blognya. Masih terus mengagumi kemampuan berpikirnya, keindahan tulisannya, kebiasaannya berrefleksi, tetapi bukan orangnya hehehe. Karena kemampuannya menulis, di mataku, he's the sexiest man alive.
Mungkin kalau kelak 25 tahun kemudian anak perempuanku bertanya, "Ma, Mama suka ga sih sama pacar aku?"
Aku akan jawab, "Mama belum tau. Suruh dia nulis tentang topik apapun yang dia suka, nanti mama baca, baru mama bisa jawab..."

Ngomong-ngomong, aku bukan naksir atau apa sama si Grey please. Ini cuma kekaguman semata dan aku cuma ga bisa nemu contoh yang lebih bagus lagi :)))



See you!
deapurie