Monday, March 30, 2020

Corona, Saatnya Menepi Sejenak

"... kami mohon ampun Tuhan, apabila selama ini kami banyak mengeluh, kami kurang bersyukur atas berkat pekerjaan yang engkau berikan selama ini..."

Kalimat itu adalah sepenggal dari doa kami dini hari tadi. Kami, saya dan Mas Rengga, berdoa bersama via kecanggihan teknologi bernama WhatsApp call. Suara Mas Rengga terdengar dikuat-kuatkan, sementara saya tercekat menahan air mata.

Beberapa bulan yang lalu, saya kerap kali sambat ketika harus ngantor pagi-pagi. Masih ngantuk, terlalu pagi, tidak punya cukup waktu untuk keramas, dan sederet keluhan lainnya. Yang sesungguhnya berawal dari ketidakmampuan saya mengatur waktu dengan baik.

Baru dua bulan yang lalu, saya mengajukan cuti me time kepada manager saya. Yang akhirnya tidak bisa saya ambil karena ada sesuatu yang harus saya handle di tanggal yang saya tunjuk. Kalau saya pikir-pikir sekarang, sombong betul saya kala itu. Merasa jadi orang paling sibuk, merasa tidak punya waktu.

Saya ingat betul kala itu, hari Sabtu tanggal 14 Maret 2020. Saya masih berkantor seperti biasa. Hari sudah menjelang siang ketika banyak info-info mengenai persebaran virus Corona yang sudah mencapai Jogja. Info tersebut berujung himbauan dari berbagai kampus untuk me-non aktifkan kegiatan tatap muka. Terlihat seperti diliburkan, namun berkat kecanggihan teknologi, online class tetap berjalan. Saya masih ingat siang itu manager saya menyatakan bahwa kemungkinan kantor kami akan shut-down sementara. Dalam hati saya masih berpikir bahwa semua akan baik-baik saja.

Bahkan sore itu saya masih mengunjungi pusat perbelanjaan. Dan saya melihat bahwa segalanya masih baik-baik saja.

Hari-hari berikutnya saya masih beberapa kali ke kantor. Jujur kala itu saya masih belum begitu khawatir. Hanya saja, situasi memang sudah demikian berubah. Setelahnya saya sempat meliburkan diri beberapa hari, tetapi rasanya memang tidak begitu nyaman. Ada hari ketika saya kembali ke kantor, saya menitikkan air mata ketika saya sedang bersiap-siap. Betapa sekarang berpergian adalah suatu kemewahan. Dulu saya sering menggerutu ketika bersiap-siap pergi. Rempong, capek. Kemudian sekarang saya jadi melakukannya dengan penuh syukur.

"Tuhan berkati manager kami, pimpinan kantor kami, yang kami yakin kali ini sedang diliputi berbagai persoalan terkait dengan biaya-biaya yang harus dikeluarkan di tengah krisis pemasukan..."

Kalimat itu diucapkan oleh Mas Rengga. Air mata saya menetes tak tertahankan.

Saya ingat betul betapa sepinya situasi kantor belakangan. Hingga akhirnya manager saya mengumpulkan beberapa karyawan dan menyatakan bahwa situasi sedang tidak oke, sehingga terpaksa akan ada pengurangan jam kerja dan sebagian dari kami dirumahkan sampai batas waktu yang belum ditentukan. Situasi yang kurang lebih sama juga terjadi di kantor Mas Rengga.

Kala itu saya diam, namun setelahnya saya menangis cukup lama. Saya masih terhitung beruntung, masih memiliki pekerjaan sebagai pengajar paruh waktu di sebuah universitas. Mas Rengga masih bisa work from home, walau entah sampai kapan. Namun saya tidak kuat membayangkan teman-teman kami yang lain, baik di tempat saya bekerja maupun di tempat Mas Rengga bekerja. Yang sudah bekerja begitu lama, yang sudah mengabdikan dirinya penuh. Pelik lagi membayangkan bagaimana manager kami bergelut, berjuang memastikan agar semua kebutuhan bisa terpenuhi, di tengah kesulitan yang jauh lebih rumit dari yang kami tahu. Segalanya begitu mendadak dan tak terduga. Hati saya sesak. Biar bagaimanapun, kantor kami adalah tempat di mana kami sama-sama sibuk menghabiskan waktu beberapa bulan belakangan ini. Pekerjaan yang sering kami keluhkan, sejatinya adalah bagian dari hidup kami, tenaga nafas kami.

Saya masih ingat beberapa hari yang lalu, rekan kerja saya berkelakar mengenai ODP, ora (n)duwe penghasilan (tidak punya penghasilan). Entah kenapa batin saya bergejolak, melihat seulas senyum getir yang masih terlihat dibalik gelak tawanya. Saya masih ingat beberapa hari yang lalu kami masih mengeluhkan "...pengen ke mall nih..." yang saya yakin sekarang keluhan itu sudah berganti menjadi keinginan untuk bekerja dan kembali ke rutinitas normal.

Sudah menjadi rutinitas saya dan Mas Rengga, untuk menyempatkan makan malam bersama sepulangnya kami bekerja. Di waktu-waktu itulah segala keluh kesah mengenai pekerjaan kami, kami pertukarkan. Hal yang entah kapan lagi bisa kami lakukan.

"... kami juga mohon ampun atas kelalaian kami Tuhan. Kami banyak mengabaikan orang di sekitar kami, kami jarang menyisihkan waktu untuk keluarga kami. Kami jauh lebih mementingkan pekerjaan kami dibandingkan keluarga kami..."

Terbata-bata saya mengucapkan kalimat itu. Sekian lama saya tidak bertegur sapa dengan adik saya, tidak banyak bercerita dengan ibu saya, tidak banyak membicarakan hal remeh-temeh dengan Mbak Mini. Pun saya juga lupa kapan terakhir kali saya menemani nenek saya makan. Pekerjaan di atas segala-galanya, kala itu.

Menjadikan pekerjaan saya hidup saya, membuat saya serasa kehilangan hidup saya ketika saya kehilangannya. Saya lupa, hidup bukan hanya sekedar bekerja dan menikmati hasilnya setelahnya.

Saya lupa, saya masih punya rumah untuk saya pulang.

Semoga rumah saya masih cukup rentangan tangannya untuk memeluk saya yang sempat abai ini kembali. Mungkin ini cara Tuhan mengingatkan saya, bahwa di bawah sepatu high-heels saya, yang kemarin jadi pijakan saya nyaris setiap hari, masih ada lantai rumah yang nyaman. Selain cipika-cipiki penuh formalitas, masih akan ada pelukan yang walau penuh isak tangis, terasa lebih hangat.

Kembalilah ke rumah, di sanalah tempatmu berada...

Friday, September 8, 2017

Move On, Mau dan Tidak, Itu Saja



Namanya orang having relationship, lama-kelamaan akan terbiasa berada dalam kondisi saling support satu sama lain, saling membutuhkan, saling merindukan, bahkan bisa saja saling bergantung. Being in a relationship dan kondisi ‘saling’ ini memerlukan adanya pihak kedua. Pihak kedua ini pasti bukan diri sendiri, dan karena bukan diri sendiri, maka pihak kedua ini berpotensi untuk...

...pergi. Meninggalkan. Atau mungkin kita tinggalkan.

Periode setelah kejadian meninggalkan dan ditinggalkan ini, adalah masa-masa yang nggak mudah bagi sebagian orang. Terbiasa berbagi kehidupan satu sama lain, sekarang masing-masing harus mulai menata kehidupan baru yang nggak sama lagi.

Bahasa kerennya, move on.

Selain menyoal kondisi pasca break-up, nggak ada definisi pasti tentang move on. Jika kita menanyai, let’s say, sepuluh orang soal apa itu move on, yakinlah kita akan mendapatkan sepuluh jawaban yang berbeda.

Ada yang bilang move on itu kalau benar-benar tutup buku, tanpa pernah ada urusan lagi sedikitpun dengan mantan. Ada juga yang berpendapat kalau move on itu tetap bisa say hello dan ngobrol basa-basi sama mantan dengan santai tanpa ada drama yang tersisa. Ada juga yang belum move on kalau belum menemukan yang baru. Macam-macam.

Definisinya berbeda, perjuangannya pun berbeda. Ada yang move on dengan mudahnya. Ada pula yang move on dengan tertatih-tatih. Ada yang bilang move on itu piece of cake, ada yang bilang move on itu sulit. Yang tertatih-tatih ini, biasanya adalah yang ditinggalkan, atau terpaksa meninggalkan dengan berat hati.

Apa yang biasanya membuat tertatih-tatih?
Kenangannya yang maha dahsyat?
Perubahan yang begitu drastis?


Saya bukan pakar move on kok. Saya pernah ada di titik terbawah cuma gara-gara kesulitan move on.

Pada awalnya, hitungan puluhan jam nggak keluar kamar, nggak mandi, nggak cuci muka. Bahkan lunturan maskara sisa drama putus masih ada, saya biarkan sampai kering menghitam di sekitar mata. Saya nggak bisa berhenti memikirkan khayalan saya soal masa depan yang porak-poranda. Lebay ya? Iya, saya bisa bilang itu lebay sekarang. Pada waktu itu saya taunya pokoknya saya menderita.

Kehidupan hingga beberapa bulan setelahnya, nggak juga kunjung kembali normal. Karena apa? Hidup saya normal kalau saya kembali ke rutinitas yang sering saya jalani dengan mantan. Bisa gitu ya?

Hingga beberapa bulan setelahnya, setiap kali sedang dalam perjalanan atau sedang melintasi jalan raya, mendadak sensitif setiap kali melihat mobil merk X dengan warna Y. Langsung cek plat nomornya AB xxxx XX atau bukan. Pernah suatu ketika, platnya cocok dan memang betul itu mobil mantan. Entah kenapa penasaran, ingin tahu mantan mau ke mana. Lalu diam-diam seperti detektif, membuntuti mobil mantan yang ternyata mengarah ke tempat favorit kami dulu. Ternyata dia tidak sendiri. Berdua bersama perempuan cantik berambut pirang sepunggung.

Selanjutnya saya pulang dan menghabiskan beberapa jam berikutnya menangis sampai tertidur.

Pernah juga membuat akun BBM palsu, lalu add BBM mantan. Alasannya, saya memang tadinya nggak punya akun BBM, dan kalau add mantan pakai akun BBM atas nama saya, pasti nggak diapprove. Karena konon katanya, mantan sering update foto bersama perempuan-perempuan yang sedang dikencaninya di BBM. Dulu jaman masih pacaran pun, saya nggak tau mantan punya BBM. Jadilah BBM palsu, dengan foto profil perempuan cantik. Nggak berapa lama, diapprove sama mantan.

Selanjutnya, setiap beberapa menit sekali saya sibuk mengecek update BBM. Oh mantan lagi jalan sama perempuan yang rambutnya bob. Tahu-tahu besoknya pofile picture berubah, selfie dengan perempuan yang rambutnya dicat merah sebahu. Besoknya lagi, selfie di mobil dengan perempuan yang lain lagi. Setiap mantan update profile picture bersama perempuan lain disertai dengan status 'dinner with xxx @pepperlunch' atau 'ditemenin meeting sama yyy cantik @lalalahotel' dada saya rasanya sesak.

Selanjutnya saya sibuk men-zoom in zoom out foto tersebut, mengamati secantik apa sih si xxx atau yyy itu. Kemudian mengingat wajah mereka dan berkhayal kalau nggak sengaja ketemu salah satu dari mereka di mall, mau saya adu domba. Biar xxx tau kalau mantan juga jalan sama yyy.

Saya juga masih rutin mengecek email kantor mantan yang lupa di-sign out di laptop saya. Jadi saya tahu, tanggal 8 mantan ada meeting di hotel X, tanggal 10 ada gathering di kantor cabang, tanggal 14 pesan tiket pesawat ke Bali sama seorang perempuan yang entah perempuan mana lagi.

Pernah saya lihat agenda mantan ada pameran di mall charlie tanggal 25. Kebetulan tanggal 25 hari libur dan saya nggak ada rencana mau pergi-pergi ke manapun, maka saya sengaja jalan ke mall charlie, sendirian. Dari jauh saya lihat mantan, sedang sibuk ngobrol sama seseorang, mungkin klien. Entah kenapa saya ya memang hanya mau lihat aja, nggak lebih. Hingga akhirnya saya berhenti memata-matai, ketika seorang perempuan menghampiri mantan membawakan minuman. Oh, mungkin dia yang ke Bali sama mantan tanggal 14 kemarin. Atau bisa juga perempuan yang lain lagi.

Hingga akhirnya, saya capek sendiri.

Butuh waktu berbulan-bulan, untuk menyadari bahwa segala yang saya lakukan dan pikirkan itu sebenarnya membuat kestabilan emosi saya nggak sehat. Saya berkali-kali mengeluh susah move on, tapi setiap hari mengecek keberadaan mantan ada di mana. Sesesak apapun dada saya melihat foto mantan dengan perempuan-perempuan yang nggak sedikit, saya tetap cek update BBM mantan setiap hari.

Ketika saya mulai merasa capek, timbul pertanyaan, "Terus kenapa?"

Saya membuntuti mantan pergi dengan perempuan lain. Lalu saya tau mereka menuju tempat favorit kami dulu. Terus kenapa?
Terus kenapa kalau mereka pergi kesana?

Saya memonitor keberadaan mantan saya lewat BBM, lewat email kantor. Saya tahu persis mantan sedang di mana dan dengan siapa. Terus kenapa?
Terus kenapa kalau mantan sedang dengan zzz @hotelmelati?

Terus kenapa kalau saya tahu?
Terus apa gunanya? Apa pengaruh baiknya untuk hidup saya?
Njuk ngopo?

Yang ada, terlalu banyak tahu membuat saya pening. Membuat saya sibuk membayangkan, apakah dulu ketika mantan sedang menjalin hubungan dengan saya, mantan juga sudah kenal xxx, yyy, dan zzz? Apakah mantan juga sering update foto selfienya dengan perempuan lain ketika masih dengan saya? Apakah ketika mantan ke tempat favorit kami dengan perempuan berambut pirang sepunggung itu, mantan ingat bahwa kami sering ke sana?

Saya sibuk menerka-nerka, sibuk memikirkan, sibuk membayangkan. Sementara mantan sibuk having fun kesana dan kemari. Dengan xxx dan yyy dan entah perempuan mana lagi.


Apa untungnya buat saya?
Memuaskan rasa penasaran dan obsesi, mungkin. Tapi yang terpuaskan adalah rasa penasaran dan obsesi yang tidak sehat. Tidak berguna. Semakin terjawab rasa penasarannya, semakin banyak kelanjutan pertanyaannya dan semakin kompleks hal-hal tidak penting yang ingin saya ketahui.

Kenapa segitu terobsesinya saya?
Masih cinta? Mungkin. Tetapi yang sangat jelas dan nyata adalah saya belum ikhlas. Saya merasa terpaksa mengakhiri hubungan kami, yang mau tak mau harus diakhiri. Saya terus berjuang melupakan segala kenangan indah yang pernah ada, tetapi saya lupa berjuang untuk mengikhlaskan, demi kebaikan hidup saya selanjutnya. Di luar segala tingkah laku mantan yang membuat saya ngelus dada, memang dia tetap sosok terbaik sejauh ini yang pernah ada. Saya nggak tahu apakah itu juga faktor yang mempengaruhi hingga saya nggak bisa merasa ikhlas dengan mudah.

Sampai akhirnya saya memutuskan untuk berhenti.

Berhenti mengamati plat mobil merk X warna Y. Berhenti membuka BBM, bahkan akun palsu yang tidak berfaedah itu saya hapus. Berhenti membuka email kantor mantan, persetan dia mau ada meeting di mana atau pesan tiket ke daerah konflik sama perempuan entah siapa.

Saya terus berusaha untuk ikhlas bahwa dia bukan bagian dari hidup saya lagi. Karena bukan bagian dari hidup saya lagi, nggak ada gunanya saya memperhatikan hidup dia lagi. Nggak ada urusannya.

Sekarang, saya nggak lagi peduli mau ada mobil merk X warna Y. Bahkan kalau itu mobil mantan pun saya nggak akan mau tahu ke mana arahnya. Saya nggak lagi tahu mantan lagi di mana, dengan siapa. Saya nggak ingat lagi wajah LC karaoke yang dia ajak ke tempat makan favorit kami dulu.

Bukan seberapa indah kenangannya, bukan seberapa drastis perubahan yang dialami. Bukan seberapa dalam cinta yang masih tertinggal, bukan seberapa dahsyat perasaan yang masih tersisa.
Bukan.

Melainkan keikhlasan, untuk cerita mendatang yang lebih baik.

Melainkan niat yang kuat, untuk melepaskan diri dari belenggu yang kita buat sendiri.


Percayalah, ini hanya soal mau dan tidak.

Tuesday, June 6, 2017

Tidak Semua yang Flirting Sedang Jatuh Cinta



Hal ter-menyakitkan bagi orang-orang yang sedang jatuh cinta, selain ditolak, adalah diberi harapan palsu.

Pertanyaan yang biasa terucap setelahnya adalah “Kenapa ada yang begitu tega memberi harapan palsu?”

Jawabannya, karena tidak semua yang flirting sedang jatuh cinta.

Harapan palsu adalah kosakata yang tercipta dari dalam benak yang ‘dikecewakan’. Bagaimana dengan yang dianggap ‘mengecewakan’? Apakah mereka betul sengaja menciptakan harapan palsu untuk diberikan kepada perasaan-perasaan yang sedang berharap? Buat apa?

Harapan palsu ada akibat ketidaksepakatan. Ketidaksepakatan antara yang (disangka) memberi harapan dan yang (merasa) diberi harapan. Jika ada kekecewaan, bukan mustahil sesungguhnya ada harapan yang dibebankan kepada seseorang secara semena-mena. Harapan yang kita bebankan tanpa ada kesepakatan, yang ketika timbul kekecewaan, kita kambing hitamkan menjadi harapan palsu.

Atau, mungkin saja harapan palsu itu sebetulnya adalah harapan yang tidak pernah diberikan, hanya ada dalam imajinasi yang berakhir kekecewaan.

Flirting, flinging, apapun namanya, seringkali menjadi sinyal tumpuan harapan. Nyatanya, tidak semua yang flirting sedang memberikan harapan. Harapan yang timbul karena jatuh cinta. Ya memang mereka tidak sedang jatuh cinta.

Ada yang flirting karena jenuh.
Jenuh dengan kehidupan percintaannya, jenuh dengan pasangannya yang mungkin tak lagi menarik di matanya.

Ada yang flirting demi pengakuan.
Pengakuan bahwa dirinya tak kehilangan pesona di mata yang lain, pengakuan bahwa dirinya masih cukup memikat hati, pengakuan bahwa dirinya masih layak dipertimbangkan.

Ada yang flirting untuk mencari sensasi.
Sensasi mengagumi dan dikagumi, sensasi merindukan dan dirindukan, sensasi menginginkan dan diinginkan, dan sebutlah macam-macam sensasi yang lainnya.

Ada yang flirting hanya supaya ingat rasanya.
Iya, hanya supaya ingat rasanya karena mungkin terakhir kali flirting sudah lama sekali, hingga akhirnya punya kesempatan flirting lagi entah karena memang ada kesempatannya atau mencuri-curi.

Ada yang flirting untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Meyakinkan bahwa dirinya masih cantik, masih tampan, masih cukup muda, masih laku, masih boleh meningkatkan level kepercayaan dirinya.

Banyak alasan untuk flirting selain jatuh cinta.
Maka tak ada alasan untuk terus berharap karena flirting.